BRMP Jambi Gelar Rakor Evaluasi dan Akselerasi LTT Padi Terintegrasi Menuju Swasembada Pangan
KOTA JAMBI — Provinsi Jambi semakin memantapkan langkah menuju swasembada pangan nasional. Hal ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi Evaluasi dan Akselerasi LTT padi Terintegrasi Provinsi Jambi Tahun 2025 yang digelar oleh BRMP Jambi, diikuti sekitar 250 peserta lintas instansi, baik secara langsung maupun daring, (17/12).
Rakor ini menjadi ruang konsolidasi strategis untuk menyatukan langkah seluruh pemangku kepentingan dalam mengawal program swasembada pangan yang merupakan program utama Presiden Republik Indonesia. Seluruh pihak sepakat bahwa keberhasilan hanya dapat dicapai melalui sinergi, kolaborasi, dan keberanian mengambil keputusan bersama.
Kepala BRMP Jambi yang diwakili Kasubbag Tata Usaha Hery Nugroho, SP., MP menegaskan bahwa peningkatan produksi pangan di Jambi terus didorong melalui optimalisasi lahan, pemanfaatan alsintan, penguatan peran penyuluh dan Babinsa, pemberdayaan Brigade Pangan, serta penguatan sarana produksi dan irigasi. Upaya tersebut menjadi fondasi untuk mengejar target tanam dan produksi yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
Sementara itu, PJ Satgas Swasembada Pangan Provinsi Jambi Ir. Yuris Tiyanto, MM menekankan pentingnya mencari akar persoalan di lapangan agar target tahun berjalan dapat tercapai. Ia juga menyampaikan bahwa ke depan swasembada tidak hanya berfokus pada padi, namun juga komoditas strategis lain seperti kacang hijau, kacang tanah dan kedelai dengan kolaborasi yang harus jauh lebih solid dibanding sebelumnya.
Diskusi yang dimoderatori Dr. Endi Putra berlangsung dinamis. Berbagai paparan dari unsur TNI, BWS, BPS, BPN, hingga BMKG memperkuat satu kesimpulan bersama: percepatan luas tambah tanam dan peningkatan produktivitas harus dilakukan secara terintegrasi, berbasis data, dan adaptif terhadap iklim.
Di akhir kegiatan, Kepala BRMP Jambi Firdaus, SP., M.Si menyampaikan bahwa pencapaian swasembada pangan 2026 disiapkan melalui dua skenario utama, yakni peningkatan luas baku sawah dan peningkatan produktivitas melalui indeks pertanaman di atas dua. Peran penyuluh, pengelolaan irigasi, pengendalian hama, serta pengujian varietas spesifik lokasi menjadi titik ungkit utama yang akan diperkuat.
Berbagai masukan dari daerah menguatkan satu pesan penting: tantangan di lapangan harus diselesaikan bersama sejak awal, agar program berjalan efektif dan berkelanjutan. Pemerintah pusat dan daerah, TNI, penyuluh, hingga petani diminta terus bergandengan tangan.
Dengan peningkatan produksi yang telah mencapai sekitar 30 persen, Jambi optimistis dapat naik kelas dan berpeluang menerima penganugerahan swasembada pangan langsung dari Presiden Republik Indonesia pada awal 2026.
Sinergi adalah kunci. Tanpa kebersamaan, swasembada hanyalah wacana. Dengan kerja bersama, swasembada menjadi nyata.