Rakor PM-AAS Merangin, Bupati Dorong Sawah Tetap Produktif
MERANGIN — Bupati Merangin H. Muhammad Syukur, S.H., M.H., mendorong penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) diarahkan untuk menjaga lahan sawah tetap produktif dan menguntungkan bagi petani. Dorongan tersebut disampaikan saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) PM-AAS Kabupaten Merangin yang digelar Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jambi di Aula Bappeda Kabupaten Merangin, Selasa (11/8). Rakor dihadiri Direktur Wilayah BRMP Jambi Yunimar, S.Si., M.Si., jajaran pemerintah daerah, BPS, Bulog, ATR/BPN, PT Pupuk Indonesia, BPLIP Kelas I Palembang, BPTPH, POPT, PBT, koordinator BPP, serta penyuluh pertanian se-Kabupaten Merangin.
Yunimar menjelaskan, PM-AAS merupakan pendekatan pertanian modern yang mengoptimalkan penggunaan teknologi dan sumber daya agar produktivitas meningkat dengan biaya usaha tani lebih efisien. Pada 2026, Kementerian Pertanian menargetkan penerapan PM-AAS secara nasional hingga 1 juta hektare dengan sasaran produktivitas minimal 10 ton per hektare. Kabupaten Merangin sendiri memiliki sasaran penerapan seluas 214 hektare. Jambi juga menjadi salah satu wilayah pilot project melalui penerapan PM-AAS di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dengan demplot 2 hektare yang menggunakan varietas Inpari 32 dan menghasilkan 10,27 ton per hektare. Dalam penerapannya, PM-AAS antara lain menggunakan sistem tanam benih langsung (tabela) dengan kebutuhan benih sekitar 70–80 kilogram per hektare dan dapat menggunakan drum seeder.
Menurut Bupati Syukur, peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani menjadi penting karena lahan sawah menghadapi tantangan alih komoditas, termasuk ke sawit. Padahal, petani memperoleh berbagai dukungan pemerintah, mulai dari bantuan, penyerapan hasil panen oleh Bulog, asuransi pertanian hingga pupuk bersubsidi. Karena itu, penyuluh diminta membantu petani melihat kelayakan usaha tani padi secara lebih konkret melalui perhitungan pendapatan dan biaya produksi. Upaya tersebut diharapkan memperkuat alasan ekonomi bagi petani untuk mempertahankan sawah sekaligus mendorong kemandirian pangan daerah. Rakor kemudian menjadi ruang penguatan koordinasi lintas sektor agar penerapan PM-AAS di Merangin dapat berjalan sesuai kondisi dan kebutuhan petani. (ASP; PS)