Data Jadi Kunci, BRMP Jambi Pastikan Pengawalan Pertanian Tebo Makin Kuat
TEBO – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jambi memperkuat pengawalan program strategis Kementerian Pertanian di Kabupaten Tebo melalui sinkronisasi data dan koordinasi lintas sektor di Desa Karang Dadi, Kecamatan Rimbo Ilir, Kamis (17/9). Kegiatan mempertemukan Penanggung Jawab Swasembada Pangan Kabupaten Tebo Dr. Endi Putra, S.P., M.Si., jajaran Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tebo, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tebo, koordinator penyuluh, serta PPL untuk menyamakan data dan kondisi pertanian di lapangan. Pembahasan mencakup luas tanam dan panen, produksi, CPCL, Cetak Sawah Rakyat (CSR), Optimasi Lahan (Oplah), serta perkembangan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Kondisi pertanian Tebo menunjukkan masih adanya tantangan dalam peningkatan produksi dan luas tanam. Hingga Agustus 2026, produksi beras tercatat 16.795,31 ton, sedangkan kebutuhan mencapai 35.386,54 ton. LTT April–September 2025 mencapai 6.052 hektare, sementara hingga 16 September 2026 tercatat 4.696 hektare. Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi alih fungsi lahan sawah menjadi perkebunan kelapa sawit, bangunan, serta aktivitas PETI dengan akumulasi 517,58 hektare. Di sisi lain, data BPS menunjukkan luas panen padi meningkat dari 3.548 hektare pada 2024 menjadi 6.646 hektare pada 2025, dengan produksi naik dari 16.406 ton menjadi 27.951 ton. BRMP Jambi menekankan perlunya sinkronisasi data hingga tingkat desa untuk memastikan kondisi pertanaman dan perkembangan program tercatat secara akurat.
Penguatan data tersebut menjadi dasar bagi BRMP Jambi, pemerintah daerah, BPS, dan penyuluh dalam menentukan prioritas pengawalan serta tindak lanjut di lapangan. Melalui diskusi bersama PPL, berbagai kendala dan perkembangan wilayah dihimpun untuk memperkuat verifikasi data sekaligus mendukung pemantauan CSR, Oplah, usulan CPCL, bantuan sarana produksi, dan PM-AAS. Kolaborasi lintas sektor diharapkan membangun rujukan data pertanian yang semakin presisi sehingga pelaksanaan program dapat disesuaikan dengan kondisi nyata dan kebutuhan di setiap wilayah Kabupaten Tebo. (TAS)