BRMP Jambi dan Tanjab Timur Perkuat Pengawalan Program Kementan Berbasis Data
TANJUNG JABUNG TIMUR – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jambi bersama Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur memperkuat pengawalan program strategis Kementerian Pertanian melalui rapat koordinasi di Kantor Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Rabu (16/9). Rakor membahas Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS), Cetak Sawah Rakyat (CSR), pupuk bersubsidi, dan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), dengan melibatkan Kepala Dinas TPH Sunarno, S.P., M.Si., LO BRMP Jambi Husnul Ardi, S.P., sekretaris LO, penyuluh pendamping, jajaran Dinas TPH, Ketua Tim Kerja Penyuluh, koordinator dan penyuluh pertanian, serta petugas POPT. Pembahasan menekankan bahwa pencapaian target perlu ditopang kesiapan lahan, sarana produksi, kondisi iklim, dan data kelompok tani yang akurat.
Untuk PM-AAS, Tanjung Jabung Timur memiliki target 3.559 hektare dengan dukungan benih yang dijadwalkan tersedia September, namun kondisi kemarau berpotensi menggeser jadwal tanam sehingga pelaksanaannya perlu menyesuaikan iklim dan kesiapan lahan. Sementara itu, CSR yang progresnya lebih dari 80 persen dan telah memungkinkan untuk diolah didorong segera ditindaklanjuti dengan dukungan Brigade Pangan dan alsintan, disertai pengapuran dolomit, benih, pupuk, serta sarana produksi lainnya. Rakor juga menekankan pembenahan database berbasis kelompok tani yang mencakup target tanaman pangan, luas baku sawah, alih fungsi lahan, hingga poligon secara bertahap. Data tersebut menjadi dasar pengusulan CPCL, bantuan sarana produksi, dan pemantauan pertanaman dari tanam hingga panen.
Pengawalan juga diarahkan pada ketepatan pupuk bersubsidi dan AUTP. Menjelang pembukaan usulan RDKK pada 22 September, penyuluh diminta memverifikasi luas lahan, indeks pertanaman, kebutuhan pupuk, dan waktu tanam agar usulan sesuai kondisi aktual. Kadis TPH mengingatkan penyuluh agar cermat menyusun RDKK serta tidak memaksakan tanam PM-AAS ketika kondisi belum memungkinkan, namun segera menindaklanjuti ketika lahan dan iklim mendukung. Melalui konsolidasi data, kesiapan lahan, dukungan sarana produksi, dan koordinasi lintas pihak, BRMP Jambi dan Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur mendorong program Kementan tidak berhenti pada pencapaian target administratif, tetapi diwujudkan dalam pertanaman yang terlaksana dan produktif. (NSH, PS)